Kamis, 28 Februari 2013

Memang cukup kamu

Malam yang tenang temani aku dalam lamunan
Angan dan mimpi yang selalu terbayang menjadi harapan
Sinar rembulan menerobos ke sisa-sisa waktu kesadaran
Aku tunggu datangnya kenyataan yang ku damba
Trus ku nanti dan ku berjanji untuk bertahan
Aku berharap, kau juga akan bertahan temani setiap waktuku

Takut akan hilangnya kamu, akan ku abaikan karena aku yakin kau pemberi
Rasa tenang dan bahagia dalam hidupku
Ingat dan terus ku ingat, kau hanyalah untukku seorang

Aku tak mau kau berpaling
Tinggalkan aku dalam kegelapan
Untukku tolong ajakku berjalan seiring dengan langkahmu
Nilai plus buatmu, tlah bersabar temani dan menghadapi semua polahku

Anginpun pasti akan menuntunku menuju tempatmu berdiam
Satu yang ku inginkan, 'jadilah yang terakhir untukku'
Aku, kamu dan kita. .tanpa ada dia, dirinya dan mereka

Seberkas Harapan

Mungkin, Tuhan mengirimmu
Untuk mewarnai hidupku
Hati ini sangat menantikan
Akan hadirmu di sisiku
Mungkin juga, Tuhan mengirimmu sebagai
Malaikat penjaga hatiku
Agar hati ini
Dapat merasakan indahnya kasih sayang

Aku tak akan pernah melepasmu
Karena teman sepertimu sulit tuk aku jumpa
Rasa sayangku semoga kau rasakan, karena kau lah
Orang yang mampu dan dapat
Membuat jantung ini berdebar tak karuan

Hanya kamu yang ada di fikiranku saat ini
Aku merasa nyaman ketika kamu ada di sisi
Sampai akupun berfikir, mengapa
Aku tak bisa menghilangkan bayangmu dari anganku
Namun hati ini belum siap, tuk katakan
I LOVE U

Rabu, 27 Februari 2013

Aku Menanti


Sepi dan tlah sunyi kini
Tak ku temui
Tak aku temani
Hanya sebuah janji
Tertanam dan terikat dalam diri
Sampai ku nanti selama ini
Sebuah realita sejati
Terbebas kanan kiri
Untuk memberi kasih
Tiada henti sampai semua terjadi

Mawar Untuk Kita

Mawar Terakhir Untukku dan Untukmu
 
            Kicauan burung pagi ini membuat Lena terbangun dari tidurnya. Sesegera mungkin ia kumpulkan sebagian nyawanya agar hari ini ia jalani dengan segenap nyawa yang ia miliki. Dengan sigap ia mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Terdengar suara nyaring dari pita suara Lena.
            “Buka hatimu..bukalah sedikit untukku..sehingga dirikuuu dapat memilikimu..betapa sakitnyaa, betapa perihnya hatiku..selalu dirimuuu tak menganggapku ada..hooooooo” ya itulah lagu kesukaan Lena, curahan hatinya pula terhadap sang pacar, Dion namanya anak teknik di sekolhnya SMEA 6 Yogyakarta.
            Setelah selesai berdandan ala putri Bantul, ia menyempatkan diri untuk bercengkrama dengan kedua adiknya, Tito dan Anis. Dan iapun mengambil sepotong roti dengan selai pisang di atasnya,belum habis sarapannya jemputn Lena tlah datang, siapa lagi kalo bukan Kangmas Dion tersayang. Dengan lihai ia mengambil tas yang berada di atas rak dengan gaya melompat dan berputar, membuat sang ibu tak berkedip dalam batin berkata “adoh, anakku kok koyo ngene?”. Lalu Lena pun berpamitn dengan orang tuanya.
            “sekolah dulu ya mi?”canda Lena.
            “gayamu itu lho, nduk” sambil menggelengkan kepala.
            “hehe, iya bu maaf..nggak lagi deh”yakin Lena.
            “iya, udah sana kasian Dion, entar kelamaan nunggu”desak ibunya.
            “ok, ibu...daaaa, assalamu’alaikum”cium tangan dan melambaikan tangan bak putri Indonesia kesasar di atas kapal.
            Ibunya tersenyum dan membalas lambaian Lena. Beberapa detik kemudian Lena tlah berad di depan gerbang rumahnya dan mendapati Dion, pacarnya membawa setangkai bunga mawar merah untuknya.
            “pagi, cintaku..”sapa Dion.
            “pagi, pangeran semut..”cenda Lena.
            “uh, dasar kambing kriting”ejek Dion pada Lena, yaa rambutnya keriting cerewet pula anaknya.
            “nih, bunga ke-102 buat kamu..hehe, disimpan ya kriting!” menyodorkan setangkai mawar dengan gaya khasnya, berkedip-kedip dan menggigit bibir bawahnya.
            “terimakasih, sayang..bagus nih bunganya.” Smbil mencium bunga itu.
            “so pasti dong yang, semuanya bagus dan terbaik buat kamu” gombal Dion
            “yee, kamu..udah yuk berangkat”merengkuh bahu Dion dan naik di atas motor kesayangan Dion.
            “brm brm brm brm brm”sindir Lena terhadap motor sang pacar. Lalu Dion menghidupkan motornya dan ‘trenteng trenteng trenteng’ yah, sebuah motortua yaitu scuter.

            20 menit kemudian mereka sampai di sekolah, tepatnya pukul 06.59.45. 15 detik lagi mereka sampai di sekolah, mereka pasti terlambat dan memgorek-orek alesan untuk meyakinkan satpam, untung kalo boleh masuk kalo disuruh pulang?berabe deh urusan. Untunglah keberuntungan masih bersama mereka, jadi mereka langsung menuju parkiran dan berpisah pula di parkiran. Dion di ruang laboraturium di ujung timur dan Lena di lapangan olahraga di ujung barat.
            “ok, udah sampai baby.” cengar-cengir melihat ekspresi Lena.
            “iya, sapi...ke lapangan dulu ya?daa” melambaikan tangan, dan ditariknya tangan Lena oleh Dion.
            “mau kemana, sayang?”
            “kelapngan lah, masa’ ke hati kamu..nggak muat tau” sambil menarik tangannya.
            “iya, iya, ya udah gih! Entar telat lagi..”usir Dion.
            “iya, sayangku, cintaku..dada”lambaikan tangan lagi.
            “daa, sayang” melambaikan tangan membelas lambaian Lena.

            Sesampainya di lapangan ia mendapati temen-temennya telah berganti pakaian, dengan terburu-buru ia menuju kamar mandi dan meletakkan tasnya di rak miliknya. Dengan nafas tersengal-sengal ia berlari lagi ke tengah lapangan.
            “aduh, maaf pak. Saya terlambat” sapa Lena pada guru olahraganya, pak Bram.
            “kamu lagi, kamu lagi Lena..tiap hari kok telat, sudah sana gabung sama temen-temen kamu!” menggelengkan kepala lalu mununjuk ke arah teman sekelas Lena.
            Lena hanya tersenyum malu, karena dia selalu telat. Dan seolah-olah guru-gurunya hafal dengan kebiasaan Lena.
            Pelajaran pun dimulai, hari ini mereka mendapat praktek under ring. Pak Bram pun memberi contoh kepada mereka dan cara agar bola tepet masuk ke ring basket. Satu, dua, tiga pak Bram memberi contoh, kini saatnya mereka mempraktekkan. Dari absen nomor satu sampai nomor delapan belas mencoba terlebih dahulu. Ada yang masukin bola berhasil, ada juga yang nggak bisa-bisa masukin, paling lucu tuh absen empat belas bisa masukin bola ke ring tapi nggak bisa menangkap bolanya lagi dan alhasil kepalanya sebagai tumpuan bola jatuh.
            “aw..”katanya.
            “hahaha, dasar aneh. Ada bola jatuh kok didiemin aja, nggak nangkep nggak ngehindar..aduh, aduh” teriak salah satu teman Lena. Semua jadi terbahak-bahak karenaitu.
            Giliran absen sembilan belas sampai tiga puluh enam, termasuk Lena. Keringat dingin membasahi seluruh badan Lena, karena inilah pelajaran olahraga yang paling ia tidak sukai.
***
            Waktu itu ia mengikuti pelajaran sperti biasanya, kebetulan jadwalnya pelajaran olahraga tepatnya permainan bola besar yaitu bola basket. Guru olahraganya memberikan materi cara passing dan drible yang benar. Seterusnya ia bersama teman-temannya mempraktekan materi yang diberikan tadi. Secara bergantian mereka mencobanya, berbaris ke belakang seperti layaknya orang antri sembako.
            “woy, gantian dong! Pegel ni tangan mau coba pagang bola basket.” Teriak Ryan teman dekat Lena.
            “iya, sabar kali mas.”sentak salah satu temannya.
            “hehe”nyengir dan tertunduk malu si Ryan.
            “udah deh, jangan ribut kayak anak SD aja”Lena mengelurkan suaranya.
            “bener tu kata Lena, kita kan udah masuk SMK.”sanggah Sisil teman sebangkunya.
            “iya, iya..bercanda kali.”sambil menepuk bahu Lena.
            “aw, sakit tau”runtih Lena.
            Sekarang giliran Lena mencobanya. Dengan kepercaya dirian yang tinggi ia mengambil bola basket itu. Dan hap Lena melompat dan mengambil bolanya.
            “jangan kebanyakan gaya Len!”sindir Ryan.
            “hehe, iya..drible dulu ya, bu?”yakin Lena.
            Dengan singkat gurunya menjawab, “iya”.
            Satu, dua Lena bisa melakukan drible dengan baik, dengan ukuran pemula tentunya. Hingga kesempatan ketiganya ia membuat bolanya menggelinding ke lapangan sepak bola. Dan bola itu di lemparkan ke arah Lena, dan,dan Lena tidak bisa menangkapnya dan mengenai kepalanya. Seketika ia pingsan dan dibawa ke UKS. Nyaris ia mau dibawa ke rumaah sakit karena ia tak segera sadarkan diri, namun ketika mobil ambulans tiba di depan sekolah Lena segera sadarkan diri, maka iapun langsung diantarkan pulang oleh salah satu temannya.
***
            Dion mengikuti pelajaran seperti biasanya, sampai diberi tahu oleh salah satu teman sekelas Lena ketika bertemu di toilet.
            “dion kan?”tebak teman sekelas Lena.
            “yoi, ada apa bro?”jawab Dion dengan nada penasaran.
            “pacarnya Lena kan?”tambahnya.
            “iya?kok tahu?maksud kamu apa?Dion semakin penasaran.
            “itu tadi, si Lena pas olahraga pingsan kepalanya kena bola.”
            “yakin? Sekarang dia dimana?bagaimana keadaannya?dengan nada penuh kecemasan dan kekhawatiran pada keadaan Lena.
            “tadi dibawa ke UKS, tappi sekarang udah dianterin pulang takut dia kenapa-napa dan biar dia bisa istirahat.”sambil menepuk bahu Dion, bermaksud untuk menenangkannya.
            “syukurlah, thanks ya”sambil menepuk bahu.
            “oke bro” membalas dengan rangkulan persahabatan.
            Berlalu dan berpisah seketika, Dion tenggelam dalam kekhawatirannya. Tak semangat belajar dan akhirnya ia tak bisa konsentrasi terhadap intruksi yang diberikan gurunya.
***
            25 menit kemudian Lena telah sampai di rumahnya. Dan ia disambut penuhtanya oleh ibunya.
            “Kamu kenapa nak?”raut kekhawatiran seorang ibu terpancar dari wajah ibu Lena.
            “tadi kepalaku kena bola mam, aku pingasan deh.hehe”jawab Lena malu.
            “Ya udah, istirahat dulu gih!”perintah mamanya.
            Lena masuk dan beristirahat di kamarnya. Ia tertidur pulas dalam sakitnya. Sedangkan ibu Lena mengucapkan terimakasih kepada teman Lena yang telah mengantarkan Lena, taman Lena pun kembali ke sekolahnya.
***
            Sekitar pukul 15:00 lena bangun, dan dia merasakan pusing di kepalanya. Ia cerita kepada ibunya.
“mi, aku pusing”rintih Lena.
“ya udah, periksa ke rumah sakit aja, mami juga takut terjadi apa-apa sama kamu!” ujar mami
“iya deh mi, aku nurut aja deh!” kata Lena pelan
Akhirny tanpa piker panjang legi mereka berangkat ke rumaf sakit. Sampei disana mami langsung menemui dokter yang akan memeriksa Lena, tapi mami merasa ada kejanggalan di saat dokter itu memeriksa
“dok kenapa anak saya harus cek darah segala dia baik-baik aja kan dok?” kata mami
“tenang ibu, lebih baik ibu tunggu saja di sini!” kata dokter menenangkan
“baik dok!” kata mami
Setelah lama menunggu akhirnya hasil dari tes laboratorium itu serafkan pada mami, tak lama kemudian mami di panggil oleh dokter
“maaf bu, dengan berat hati saya harus mengatakan bahwa menurut fasil tes laboratorium anak ibu menderita kanker otak stadium akhir!” kata dokter
“ apa dok? Dokter serius kan jangan main-main dok!” mami tak percaya akan hal itu.
“iya ibu saya serius!” yakin dokter
Mendadak suasana ruangan itu hening dan penuh kesedihan. Mami pun menangis dengan terisak-isak, ia tak rela jika anak semata wayangnya harus merasakan sakit yang berarti
Sebelum pulang kerumah mami mengajak Lena ke sebuah taman.
“ma, tadi kata dokter lena sakit apa kok mami sedih?” Tanya lena
“kamu gak sakit apa-apa kok len Cuma pusing biasa!” jawab mami
Rahasia itu selalu ditutup-tutupi oleh mami, ia tak tega jika setelah mendengar kabar itu keadaan lena semakin memburuk. 2 tahun sudah lena mengidap penyakit itu, suatu ketika lena yang sedang asyik berjalan-jalan di pantai pun pingsan, ia dilarikan ke rumah sakit. Ternyata Lena koma beberapa hari ia tak sadar pikiran mami semakin kacau. Pada sustu hari Lena tersadar ia mengucap satu kata untuk semuanya
“ maafkan lena ya! Gak bias disini terus temani kalian soalnya sudaf ditunggu! Lena pamit ya! Lena Cuma titip setangkai mawar potih untuk Dion buat anniversary hubungan mereka  tahun ini! Bahagialah kalian semua !”
Tepat setelah Lena mengucap kata ter akhir itu lena menghembuskan nafas terakhirnya. Tangis air mata pun pecah suasana yang tadi hening menjadi sedih, ketika mendengar bafwa lena telah tiada dion pun segera pergi ke rumah sakit untuk melihat lena yang terakhir kalinya, setelah sampai dion melihat lena terbujur kaku di tempat tidurnya, mami juga memberikan mawar putih titipan lena untuknya.
Dion pun pergi dengan linangan air mata, tapi malang karena tidak hati-hati dion pun kecelakaan dan meninggal dengan menggenggam mawar putih dari lena.