Mawar
Terakhir Untukku dan Untukmu
Kicauan burung pagi ini membuat Lena
terbangun dari tidurnya. Sesegera mungkin ia kumpulkan sebagian nyawanya agar
hari ini ia jalani dengan segenap nyawa yang ia miliki. Dengan sigap ia
mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Terdengar suara nyaring dari pita
suara Lena.
“Buka hatimu..bukalah sedikit
untukku..sehingga dirikuuu dapat memilikimu..betapa sakitnyaa, betapa perihnya
hatiku..selalu dirimuuu tak menganggapku ada..hooooooo” ya itulah lagu kesukaan
Lena, curahan hatinya pula terhadap sang pacar, Dion namanya anak teknik di sekolhnya SMEA 6 Yogyakarta.
Setelah selesai berdandan ala putri
Bantul, ia menyempatkan diri untuk bercengkrama dengan kedua adiknya, Tito dan
Anis. Dan iapun mengambil sepotong roti dengan selai pisang di atasnya,belum
habis sarapannya jemputn Lena tlah datang, siapa lagi kalo bukan Kangmas Dion
tersayang. Dengan lihai ia mengambil tas yang berada di atas rak dengan gaya
melompat dan berputar, membuat sang ibu tak berkedip dalam batin berkata “adoh,
anakku kok koyo ngene?”. Lalu Lena pun berpamitn dengan orang tuanya.
“sekolah dulu ya mi?”canda Lena.
“gayamu itu lho, nduk” sambil
menggelengkan kepala.
“hehe, iya bu maaf..nggak lagi
deh”yakin Lena.
“iya, udah sana kasian Dion, entar
kelamaan nunggu”desak ibunya.
“ok, ibu...daaaa,
assalamu’alaikum”cium tangan dan melambaikan tangan bak putri Indonesia kesasar
di atas kapal.
Ibunya tersenyum dan membalas
lambaian Lena. Beberapa detik kemudian Lena tlah berad di depan gerbang
rumahnya dan mendapati Dion, pacarnya membawa setangkai bunga mawar merah
untuknya.
“pagi, cintaku..”sapa Dion.
“pagi, pangeran semut..”cenda Lena.
“uh, dasar kambing kriting”ejek Dion
pada Lena, yaa rambutnya keriting cerewet pula anaknya.
“nih, bunga ke-102 buat kamu..hehe,
disimpan ya kriting!” menyodorkan setangkai mawar dengan gaya khasnya,
berkedip-kedip dan menggigit bibir bawahnya.
“terimakasih, sayang..bagus nih
bunganya.” Smbil mencium bunga itu.
“so pasti dong yang, semuanya bagus
dan terbaik buat kamu” gombal Dion
“yee, kamu..udah yuk
berangkat”merengkuh bahu Dion dan naik di atas motor kesayangan Dion.
“brm brm brm brm brm”sindir Lena
terhadap motor sang pacar. Lalu Dion menghidupkan motornya dan ‘trenteng
trenteng trenteng’ yah, sebuah motortua yaitu scuter.
20 menit kemudian mereka sampai di
sekolah, tepatnya pukul 06.59.45. 15 detik lagi mereka sampai di sekolah,
mereka pasti terlambat dan memgorek-orek alesan untuk meyakinkan satpam, untung
kalo boleh masuk kalo disuruh pulang?berabe deh urusan. Untunglah keberuntungan
masih bersama mereka, jadi mereka langsung menuju parkiran dan berpisah pula di
parkiran. Dion di ruang laboraturium di ujung timur dan Lena di lapangan
olahraga di ujung barat.
“ok, udah sampai baby.”
cengar-cengir melihat ekspresi Lena.
“iya, sapi...ke lapangan dulu
ya?daa” melambaikan tangan, dan ditariknya tangan Lena oleh Dion.
“mau kemana, sayang?”
“kelapngan lah, masa’ ke hati
kamu..nggak muat tau” sambil menarik tangannya.
“iya, iya, ya udah gih! Entar telat
lagi..”usir Dion.
“iya, sayangku,
cintaku..dada”lambaikan tangan lagi.
“daa, sayang” melambaikan tangan
membelas lambaian Lena.
Sesampainya di lapangan ia mendapati
temen-temennya telah berganti pakaian, dengan terburu-buru ia menuju kamar
mandi dan meletakkan tasnya di rak miliknya. Dengan nafas tersengal-sengal ia
berlari lagi ke tengah lapangan.
“aduh, maaf pak. Saya terlambat”
sapa Lena pada guru olahraganya, pak Bram.
“kamu lagi, kamu lagi Lena..tiap
hari kok telat, sudah sana gabung sama temen-temen kamu!” menggelengkan kepala
lalu mununjuk ke arah teman sekelas Lena.
Lena hanya tersenyum malu, karena
dia selalu telat. Dan seolah-olah guru-gurunya hafal dengan kebiasaan Lena.
Pelajaran pun dimulai, hari ini
mereka mendapat praktek under ring. Pak Bram pun memberi contoh kepada mereka
dan cara agar bola tepet masuk ke ring basket. Satu, dua, tiga pak Bram memberi
contoh, kini saatnya mereka mempraktekkan. Dari absen nomor satu sampai nomor
delapan belas mencoba terlebih dahulu. Ada yang masukin bola berhasil, ada juga
yang nggak bisa-bisa masukin, paling lucu tuh absen empat belas bisa masukin
bola ke ring tapi nggak bisa menangkap bolanya lagi dan alhasil kepalanya
sebagai tumpuan bola jatuh.
“aw..”katanya.
“hahaha, dasar aneh. Ada bola jatuh
kok didiemin aja, nggak nangkep nggak ngehindar..aduh, aduh” teriak salah satu
teman Lena. Semua jadi terbahak-bahak karenaitu.
Giliran absen sembilan belas sampai
tiga puluh enam, termasuk Lena. Keringat dingin membasahi seluruh badan Lena,
karena inilah pelajaran olahraga yang paling ia tidak sukai.
***
Waktu itu ia mengikuti pelajaran
sperti biasanya, kebetulan jadwalnya pelajaran olahraga tepatnya permainan bola
besar yaitu bola basket. Guru olahraganya memberikan materi cara passing dan
drible yang benar. Seterusnya ia bersama teman-temannya mempraktekan materi
yang diberikan tadi. Secara bergantian mereka mencobanya, berbaris ke belakang
seperti layaknya orang antri sembako.
“woy, gantian dong! Pegel ni tangan
mau coba pagang bola basket.” Teriak Ryan teman dekat Lena.
“iya, sabar kali mas.”sentak salah
satu temannya.
“hehe”nyengir dan tertunduk malu si
Ryan.
“udah deh, jangan ribut kayak anak
SD aja”Lena mengelurkan suaranya.
“bener tu kata Lena, kita kan udah
masuk SMK.”sanggah Sisil teman sebangkunya.
“iya, iya..bercanda kali.”sambil
menepuk bahu Lena.
“aw, sakit tau”runtih Lena.
Sekarang giliran Lena mencobanya.
Dengan kepercaya dirian yang tinggi ia mengambil bola basket itu. Dan hap Lena
melompat dan mengambil bolanya.
“jangan kebanyakan gaya Len!”sindir
Ryan.
“hehe, iya..drible dulu ya,
bu?”yakin Lena.
Dengan singkat gurunya menjawab,
“iya”.
Satu, dua Lena bisa melakukan drible
dengan baik, dengan ukuran pemula tentunya. Hingga kesempatan ketiganya ia
membuat bolanya menggelinding ke lapangan sepak bola. Dan bola itu di lemparkan
ke arah Lena, dan,dan Lena tidak bisa menangkapnya dan mengenai kepalanya.
Seketika ia pingsan dan dibawa ke UKS. Nyaris ia mau dibawa ke rumaah sakit
karena ia tak segera sadarkan diri, namun ketika mobil ambulans tiba di depan
sekolah Lena segera sadarkan diri, maka iapun langsung diantarkan pulang oleh
salah satu temannya.
***
Dion mengikuti pelajaran seperti
biasanya, sampai diberi tahu oleh salah satu teman sekelas Lena ketika bertemu
di toilet.
“dion kan?”tebak teman sekelas Lena.
“yoi, ada apa bro?”jawab Dion dengan
nada penasaran.
“pacarnya Lena kan?”tambahnya.
“iya?kok tahu?maksud kamu apa?Dion
semakin penasaran.
“itu tadi, si Lena pas olahraga
pingsan kepalanya kena bola.”
“yakin? Sekarang dia
dimana?bagaimana keadaannya?dengan nada penuh kecemasan dan kekhawatiran pada
keadaan Lena.
“tadi dibawa ke UKS, tappi sekarang
udah dianterin pulang takut dia kenapa-napa dan biar dia bisa istirahat.”sambil
menepuk bahu Dion, bermaksud untuk menenangkannya.
“syukurlah, thanks ya”sambil menepuk
bahu.
“oke bro” membalas dengan rangkulan
persahabatan.
Berlalu dan berpisah seketika, Dion
tenggelam dalam kekhawatirannya. Tak semangat belajar dan akhirnya ia tak bisa
konsentrasi terhadap intruksi yang diberikan gurunya.
***
25 menit kemudian Lena telah sampai
di rumahnya. Dan ia disambut penuhtanya oleh ibunya.
“Kamu kenapa nak?”raut kekhawatiran
seorang ibu terpancar dari wajah ibu Lena.
“tadi kepalaku kena bola mam, aku
pingasan deh.hehe”jawab Lena malu.
“Ya udah, istirahat dulu
gih!”perintah mamanya.
Lena masuk dan beristirahat di
kamarnya. Ia tertidur pulas dalam sakitnya. Sedangkan ibu Lena mengucapkan
terimakasih kepada teman Lena yang telah mengantarkan Lena, taman Lena pun
kembali ke sekolahnya.
***
Sekitar pukul 15:00 lena bangun, dan
dia merasakan pusing di kepalanya. Ia cerita kepada ibunya.
“mi,
aku pusing”rintih Lena.
“ya
udah, periksa ke rumah sakit aja, mami juga takut terjadi apa-apa sama kamu!”
ujar mami
“iya
deh mi, aku nurut aja deh!” kata Lena pelan
Akhirny
tanpa piker panjang legi mereka berangkat ke rumaf sakit. Sampei disana mami
langsung menemui dokter yang akan memeriksa Lena, tapi mami merasa ada
kejanggalan di saat dokter itu memeriksa
“dok
kenapa anak saya harus cek darah segala dia baik-baik aja kan dok?” kata mami
“tenang
ibu, lebih baik ibu tunggu saja di sini!” kata dokter menenangkan
“baik
dok!” kata mami
Setelah
lama menunggu akhirnya hasil dari tes laboratorium itu serafkan pada mami, tak lama
kemudian mami di panggil oleh dokter
“maaf
bu, dengan berat hati saya harus mengatakan bahwa menurut fasil tes
laboratorium anak ibu menderita kanker otak stadium akhir!” kata dokter
“
apa dok? Dokter serius kan jangan main-main dok!” mami tak percaya akan hal
itu.
“iya
ibu saya serius!” yakin dokter
Mendadak
suasana ruangan itu hening dan penuh kesedihan. Mami pun menangis dengan
terisak-isak, ia tak rela jika anak semata wayangnya harus merasakan sakit yang
berarti
Sebelum
pulang kerumah mami mengajak Lena ke sebuah taman.
“ma,
tadi kata dokter lena sakit apa kok mami sedih?” Tanya lena
“kamu
gak sakit apa-apa kok len Cuma pusing biasa!” jawab mami
Rahasia
itu selalu ditutup-tutupi oleh mami, ia tak tega jika setelah mendengar kabar
itu keadaan lena semakin memburuk. 2 tahun sudah lena mengidap penyakit itu,
suatu ketika lena yang sedang asyik berjalan-jalan di pantai pun pingsan, ia
dilarikan ke rumah sakit. Ternyata Lena koma beberapa hari ia tak sadar pikiran
mami semakin kacau. Pada sustu hari Lena tersadar ia mengucap satu kata untuk
semuanya
“
maafkan lena ya! Gak bias disini terus temani kalian soalnya sudaf ditunggu!
Lena pamit ya! Lena Cuma titip setangkai mawar potih untuk Dion buat anniversary
hubungan mereka tahun ini! Bahagialah
kalian semua !”
Tepat
setelah Lena mengucap kata ter akhir itu lena menghembuskan nafas terakhirnya.
Tangis air mata pun pecah suasana yang tadi hening menjadi sedih, ketika
mendengar bafwa lena telah tiada dion pun segera pergi ke rumah sakit untuk
melihat lena yang terakhir kalinya, setelah sampai dion melihat lena terbujur
kaku di tempat tidurnya, mami juga memberikan mawar putih titipan lena
untuknya.
Dion
pun pergi dengan linangan air mata, tapi malang karena tidak hati-hati dion pun
kecelakaan dan meninggal dengan menggenggam mawar putih dari lena.