Dipagi buta yang cerah, bintang masih nampak. Dia
menanti terbitnya sang mentari ditemani segelas kopi '3 in 1' dan beberapa lagu
yang diputar dari handphone-nya.
Sambil termenung, sesekali melihat ke langit, dan menyruput kopinya. Lama
kelamaan langit mulai terang, cahaya bintang yng tadinya terlihat jelas, kini
samar-samar, sebagian lain sudah tidak nampak. Dan kini langit sudah berganti,
dari hitam menjadi biru. Dan yang dinantinya pun kini sudah memancarkan
sinarnya. Terlihat dari ufuk timur, cahaya kuning jingga yang indah, dipadukan
dengan biru langit, yang membentuk gradasi indah, yang hanya bisa diciptakan
oleh-NYA.
“Subhanallah”, sebuah kata keluar dari mulutnya,
sebagai rasa kagum atas alam ciptaan-NYA itu. Kemudian dia mengambil gambar
panorama alam itu, dengan EOS 650D-nya. Sekedar menuangkan hobinya, dan
mengabadikan panorama trsebut, karena tidak setiap hari pagi secerah pagi hari ini.
Tidak lama setelah itu, ia terlihat sibuk mengecek dan membersihkan sepedanya.
“Saatnya goes
!”, kalimat yang membuat satu kampung terbangun oleh teriakannya. Ya, memang
setiap hari Minggu seperti itu. Setiap Minggu pagi ia selalu bersepeda keliling
kota, sekedar menyegarkan pikiran, melepas penat, setelah enam hari penuh
bergelut dengan rumus – rumus yang nggak
jelas (pikirnya), dan materi – materi yang sangat membingungkan dan membuat
pusing kepalanya. Memang dia pelajar yang malas memperhatikan, tapi mau
bagaimana lagi, itu sudah tuntutan yang harus ia jalani, walaupun terpaksa.
Walaupun malas, tetapi dia sangat baik, cinta terhadap alam sekitar, dan nggak
suka kekerasan. Dia lebih memilih menjauhi masalah, dari pada mendekatinya, dia
juga rajin beribadah. Emm, satu lagi, dia lebih suka naik sepeda daripada naik
kendaraan bermotor. Ya mungkin karena kecintaannya terhadap alam yang mulai
rusak akibat ulah manusia sendiri.
Oh iya, sampai lupa memperkenalkan namanya. Sebut
saja dia Arya, seorang anak yang mempunyai nama lengkap Muhammad Arya ini, juga
seorang siswa dari SMA Negeri 1 Yogyakarta. Ia sendiri tinggal bersama kedua
orangtuanya di sebuah perkampungan tak jauh dari tempat ia bersekolah. Makannya
ia selalu naik sepeda. Hobinya sudah tentu bersepeda.
Pagi saat bersepeda, menikmati udara yang dingin dan sejuk, jalanan masih
sepi karena kendaraan belum sibuk berlalu – lalang. Di jalan ia berjumpa dengan
teman – teman sekolahnya, yang juga suka bersepeda. Sekedar menyapa mereka,
lalu dia pergi. Sampai di hampir sebuah persimpangan, ia berpapasan dengan
seorang gadis cantik berjilbab, yang juga sedang bersepeda. Akan tetapi saat di
persimpangan gadis tersebut belok kiri, tentu itu berlawanan dengan Arya,
karena dia belok kanan, karena hari sudah beranjak siang dan dia lelah ingin
segera pulang. Sambil di perjalanan pulang, ia terus memikirkan soal gadis yang
ia temui tadi. Sesampainya di rumah ia langsung masuk kamar.
“Ah, kenapa
tidak aku ikuti saja cewek itu, dengan gitu kan aku bisa tau namanya, dan siapa
tau ia mau berbagi nomor hpnya, ah bodoh, bodoh, bodoh (sambil memukuli
kepalanya)”, gumamnya dalam hati. Yah, begitulah jika anak muda baru terserang
hama cinta, hati berbunga – bunga, gembira tiada tara.
Hari berganti hari, dan seperti biasa, ia
bersekolah. Sampai di suatu Sabtu sore sepulang sekolah, ia memberanikan diri
menelusuri jalan yang dilaluinya saat bertemu gadis yang belum ia kenal tetapi
sudah di taksirnya. Dengan banyak pilihan, ia pun memberanikan belok kiri di
persimpangan saat ia bertemu gadis tersebut. Dengan perlahan ia mengayuh
sepedanya, sambil clengak – clengok kiri – kanan, seperti orang kebingungan, ia
terus mencari, berharap ia bertemu dengan gadis itu. Terasa sudah sangat jauh,
dan ia sudah letih, ia memutuskan untuk balik arah. Saat hendak berbalik, tiba
– tiba ia langsung mengerem sepedanya, dan tidak jadi berbalik. Terlihat
seorang gadis yang menawan hatinya keluar dari rumahnya yang beberapa rumah tak
jauh dari ia mengerem sepedanya. Ia pun sangat senang, yang dia harapkan tiba –
tiba menjadi kenyataan. Tanpa pikir panjang ia langsung menhampiri gadis itu. Tubuhnya
gemetaran saat ia di depan gadis itu, dan terlihat gadis itu tersenyum malu,
dan mukanya memerah saat berhadapan dengannya.
“H-hai, apa kabar ?”, dengan gemetaran akhirnya ia
mengatakan itu.
“Baik.”, gadis itupun menjawab.
“Aku Arya, boleh tau nama kamu ?”
“Iya boleh, nama aku Andin”, Andinna Sarah nama
lengkapnya. Seorang siswi SMA Negeri 7 Yogyakarta. Ia tinggal juga bersama
kedua orangtuanya, berjarak beberapa desa dengan rumah Arya. Hobinya sama
dengan hobi Arya.
“Oh Andin, hehe, suka bersepeda juga ya ?”
“Iya, emang kenapa ?”
“Emm, besok pagi bersepeda bareng, mau nggak?”, wah
– wah belum apa – apa sudah ajak jalan bareng, dasar anak muda jaman sekarang.
“Emm, gimana ya ?”
“Ayolah, please
. . .”, bujuknya agar Andin mau di ajak bersepedaan bareng.
“Emm, iyadeh aku mau”, akhirnya jawaban itu muncul
juga, setelah lama Arya menunggu jawaban tersebut.
“Ouw yeah (katanya dalam hati). Kalo’ gitu besok aku
ke rumahmu jam 6, gimana ?”, tawarnya.
“Eh, kamu mau kesini? (muka Andin memerah).”
“Iya, emang kenapa ?”
“Enggak kok, nggak papa.”
“Yaudah kalo’ gitu aku pulang dulu ya, sampai
bertemu besok pagi.”, dengan perasaan senang ia bergegas meninggalkan Andin,
karena hari sudah mulai petang, dan mendung, takut kalau hujan tiba – tiba datang,
sedangkan ia tidak membawa mantel hujan.
“Iya.”, jawab Andin yang terlambat, karena Arya
sudah keburu pulang duluan.
Keesokan harinya, Arya benar – benar ke rumah Andin.
“Ting tong
ting tong, Assalamualaikum”, terdengar suara bel berbunyi dan ucapan salam
dari Arya di rumah Andin.
“Waalaikumsalam, iya sebentar”, Ibu Andin membukakan
pintu.
“Eh ibuk, Andin-nya ada buk?”, tanya Arya malu.
“Ada, temenya Andin ya?”, tanya ibu Andin.
“Iya, buk”
“Oh, sebentar ya, ibuk panggil dulu Andin-nya”
“Iya buk, makasih”
“Andin, dicari temen kamu tuh, ditunggu di depan”,
teriak ibu Andin memanggil Andin.
“Iya buk, bentar”, jawab Andin.
Tak lama kemudian Andin keluar menemui temennya, yang ternyata Arya.
“Eh, kamu Ya”, kata Andin sambil terkejut.
“Kok kaya’ terkejut gitu?
Emangnya ada yang serem ya?”
“Enggak kok, nggak ada yang
serem. Heran aja kamu beneran kesini”.
“Oh, udah yuk berangkat”.
“Bentar aku ambil sepeda dan
perlengkapan dulu”.
“Iya”.
Tak lama kemudian, Andin keluar
dan mereka berangkat bersepeda bersama. Mereka berdua bersepeda keliling kota
Jogja. Di perjalanan mereka saling canda tawa sampai-sampai satu kali Arya
hampir tertabrak motor. Untung saja tidak tertabrak. Mereka berdua seperti
sepasang kekasih saja, sudah akrab meski baru bertemu. Tak terasa hari sudah mulai siang, dan waktu itu
hari sedang mendung, tiba-tiba saja hujan mengguyur jalanan yang mereka lewati.
Cepat-cepat saja mereka mencari tempat berteduh. Tak lama setelah mereka
berteduh, tiba-tiba kilat menyambar.
“Aaaaa”, terdengar teriakan Andin dan seketika Andin
memeluk Arya, karena terkejut dan takut dengan sambaran kilat yang disertai
gemuruh suara langit.
“Cieeeeeee”, semua orang menengok le arah jeritan,
mereka juga sedang berteduh. Karena memang di tempat itu banyak yang berteduh,
tak hanya Arya dan Andin. Muka Andin tiba-tiba memerah, begitupun Arya.
Kemudian Andin melepas pelukannya dan mereka berdua tertunduk malu.Hujan sudah
reda, mereka memutuskan untuk pulang. Di perjalanan terlihat mereka berdua
senyam-senyum ketika berpapasan muka.
Sesampainya di depan rumah Andin, Arya meminta nomer
hp Andin dan Arya mendapatkannya. Arya pun berpamitan dan bergegas pulang.
Sesampainya di rumah, Arya langsung mengirim pesan ke Andin, sekedar mengecek
apakah memang benar nomor yang diberikan Andin tadi. Lama-kelamaan mereka
menjadi akrab, tak pernah terputus komunikasi mereka, dan akhirnya tumbuh rasa
sayang di dalam diri mereka. Dan setelah mereka lulus dari SMA, Arya menyatakan
cinta dan langsung melamar Andin, dan mereka akhirnya bertunangan. Ya, waktu
yang lama untuk menyatakan sebuah pernyataan yang mewakili seluruh rasa di
hati. Memang usia mereka masih sangat muda, tapi mereka sudah yakin dan ingin
hubungan mereka sampai pelaminan dan sampai akhir hayat selalu bersama. Tapi
itu baru sekedar bertunangan, setelah lulus SMA mereka kuliah dan mengambil
fakultas sama, dan jadwal yang sama pula, agar Arya bisa menjemput Andin terus.
Empat tahun berlalu, akhirnya mereka lulus dan
menyandang gelar sarjana. Setelah itu Arya mencari pekerjaan, dan bisa
dibayangkan sendiri mencari pekerjaan itu sulit. Tetapi akjirnya Arya
mendapatkan pekerjaan juga. Selang satu tahun setelah Arya mendapatkan
pekerjaan, dan dirasa uang yang dikumpulkan cukup, Arya pun menikahi Andin,
mengucap sumpah janji seumur hidup. Dan akhirnya mereka hidup bahagia dan
dikaruniai dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Sampai hari tua mereka
selalu bersama, dan sampai salah satu dari mereka di panggil, mereka mengucap
suatu kata. “Sampai jumpa di kehidupan yang lain”. Kata itu yang mereka ucapkan
sebelum mereka berpisah. Dan akhirnya, cerita ini selesai juga, hehe.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar